Tag

, , ,

Menurut Ir. Priyono Salim Dipl, SE, manajemen air minum di Indonesia umumnya menganggap mudah masalah-masalah air minum, seperti tingkat kehilangan air secara nasional yang rata-rata lebih kurang 40%, konstruksi-konstruksi untuk air minum yang tidak memenuhi syarat, umur konstruksi mungkin berkisar antara 10-20 tahun karena belum ada pengaturan-pengaturan teknis yang terarah yang mengikat secara hukum kepada semua pelaksana yang menjalankan usaha dan konstruksi air minum.

Lebih lanjut beliau menjelaskan beberapa pokok masalah keteknikan dalam air minum berkenaan dengan kehilangan air antara lain : pertama inkonsistensi teknis, dan kedua adalah  fasilitas teknis air minum yang semakin menurun. Secara akademis, telah ada standar dan kaidah-kaidah teknis yang bila diikuti akan menghasilkan karya teknis rancang bangun yang baik dan efisien, seperti teknologi pemrosesan sumber air permukaan (sungai atau danau) yang memilki suatu kualitas (air baku) tertentu. Alur proses pembangunan (sarana air bersih), biasanya dilakukan dengan membangun waduk air baku (optional), pipa pembawa, bangunan-bangunan pengolahan air, sarana distribusi dan reservoir (balance reservoir di kota) dan sebagainya. Namun berhubung dengan keterbatasan dana dan sumber daya lain (SDM, biaya dll), maka dalam pelaksanaannya dilakukan penyesuaian (teknis) yang berakibat fungsi pelayanan menjadi menurun. “Life time” konstruksi yang secara normatif di desain untuk dapat mencapai umur 40 tahun, karena berbagai pertimbangan, berkurang menjadi 20 tahun saja yaitu dengan mengubah/menurunkan kualitas material . Pertimbangan yang sama dilakukan terhadap fasilitas reservoir atau waduk air baku dan reservoir kota yang untuk sementara tidak dibangun (di semua lokasi), karena pertimbangan biaya. Secara teknis, sasaran dan fungsi instalasi-instalasi tersebut cukup tercapai, namun social cost dan maintenance cost menjadi mahal. Seperti contohnya pemasangan pipa dalam kota Jakarta ini tentunya harus permanen (“maintenance free”), karena bila terjadi perbaikan di Jalan Thamrin, maka penyetopan lalu lintas selama 10 menit saja, akan berakibat macet, yang berakibat sosial dan ekonomi cost yang tinggi. Sebaliknya di kota-kota kecil atau pedesaan dapatlah kiranya diberikan prioritas untuk meringankan biaya konstruksi. Teknologi air minum termasuk kategori teknologi yang bersifat empiris; keakuratannya sangat tergantung kepada kondisi-kondisi tertentu, yang penanganannya memerlukan disiplin semua pihak yang terlibat dalam proses rancang bangun, untuk melaksanakannya sesuai dengan pedoman teknis yang ada (disahkan secara hukum, setelah diuji coba dan berkonsultasi dengan kelompok profesional). Sekarang sudah tersedia pedoman teknis yang memadai, tetapi karena satu dan lain hal, serta alasan-alasan tertentu, pedoman ini tidak diikuti, bukan hanya oleh para pekerja lapangan, para teknisi/insinyur atau administrator keuangan, bahkan para birokrat dan pejabat tinggi setingkat Menteri, Dirjen, Walikota, juga mempunyai kecenderungan untuk tidak disiplin; satu dan lain hal karena pedoman-pedoman tersebut tidak berkekuatan hukum. Masalah teknis air minum ini, tidak mengandung risiko tinggi, tetapi risiko sosial yang terjadi sangat mononjol dan luas, umumnya timbul setelah melalui suatu kurun waktu tertentu apapun yang dilaksanakan, akhirnya bermuara pada kerugian masyarakat. (Priyono Salim : 2007).

Kebocoran air atau yang populer dikenal dikalangan air minum dengan istilah UFW (un-accounted for water atau kehilangan air yang tidak terhitung/tercatat) ini, tidak serta merta terjadi dan menjadi  bocor kecuali bila terjadi bencana (force majeur), seperti gempa atau sebab lain. UFW ini terjadi sebagai akibat dari in-kompetensi yang terjadi pada seluruh siklus dan proses pembangunan dan administrasi pembangunan, meliputi antara lain proses perencanaan (dan pejabat perencana), pelaksanaan, pengawasan (dan pejabat pengawas), jasa konsultan/kontraktor (dan pengusahanya), faktor material, ketersediaan dana, pemeliharaan dan sebagainya. Dalam penyelenggaraannya, perencana yang seharusnya dapat merujuk kepada pedoman teknis, namun karena berbagai alasan, biasanya berhubung keterbatasan dana, dan tidak ada ikatan (hukum), maka perencanaan tersebut dapat dilakukan tanpa mengikuti pedoman teknis, sehingga pada waktu yang relatif singkat (3 sampai 4 tahun) kebocoran fisik mulai terjadi, bahkan kebocoran administrasi bisa terjadi lebih dini. Bila UFW ini diperhitungkan sebagai kerugian nasional terhadap 93.000 M3 per det yang sekarang terpasang dengan harga jual Rp.1.000 per M3, maka kerugian akibat UFW adalah 40 % x 93.000 ltr/dt x Rph 1.000.-per M3 x 86400, atau = ± Rp 3.2 milyar per hari . Apabila UFW dapat ditekan menjadi 20 %, maka diperoleh penghematan sebesar Rp 1.6 milyar per hari. Dapat dikemukakan bahwa 90 % dari seluruh PDAM yang ada (± 300 di seluruh Indonesia), tidak memiliki sarana untuk melakukan perhitungan jaringan perpipaan (untuk analisis hidraulis), sehingga tidak dapat melakukan pengendalian terhadap aliran air di dalam pipa-pipa tersebut. Dengan demikian, pemasangan pipa-pipa dilakukan secara sporadis, tanpa konsultasi teknis, sehingga terjadi ketidak seimbangan tekanan dan kapasitas air dalam pipa; lagi-lagi pelanggan dan pemakai adalah pihak yang secara langsung dirugikan .Dalam hal pengaliran dalam suatu sistem perpipaan yang dilaksanakan secara bergilir (karena kekurangan air), maka praktis seluruh water meter di kota tersebut sudah menjadi tidak akurat; semua pihak merugi. Di satu pihak, pelanggan merugi karena (mungkin) water meter dibaca berlebihan, atau diuntungkan, di lain pihak, PDAM dirugikan karena pembacaan yang rendah (under score). Secara teknis water meter tersebut akan selalu dapat berputar karena aliran air ataupun karena udara (karena pipa kosong), atau terjadi macet (tidak berputar), bila kemasukan lumpur; kasus-kasus itu berpotensi konflik. Hal tersebut hanyalah beberapa contoh dari sederetan panjang contoh lain dalam sektor air minum yang terjadi sehari-hari, yang kesemuanya perlu didudukkan secara hukum. Dari sudut teknis, kasus dan masalah-masalah ini dapat direduksi seminimum mungkin bila ada NSPM (norma, standar, manual) yang sah dan mempunyal kekuatan hukum, sehingga semua pihak dapat melaksanakan tugasnya secara profesional. (Priyono Salim : 2007).

Charles Santiago seorang ahli air dari Selangor memberikan contoh mengenai pengelolaan air yang baik. Contohnya, Porto Allegre sebagai kota dengan harga jual air terendah di Brasil dan berhasil menurunkan non revenue water  (kehilangan air karena dicuri atau karena kebocoran) dari 50 % dari tahun 1990 menjadi 34 % pada tahun 2001. Sebagai pembanding di negara bagian Selangor tingkat kebocoran atau kehilangan air tersebut mencapai 42 %, bahkan pada beberapa negara terdapat non revenue water  yang mencapai 60 %. Menurutnya salah satu strategi untuk mempertahankan harga air tetap rendah adalah dengan menekan kehilangan air, memperkecil atau meminimalkan kehilangan air tersebut. Di Porto Allegre masyarakat memegang peranan penting dalam menentukan harga dan membuat perencanaan investasi dalam pengelolaan air, kelompok-kelompok masyarakat yang kecil secara langsung menentukan prioritas anggaran untuk mutilitas air. Pada kenyataannya banyak kelompok-kelompok masyarakat yang ikut membahas apa prioritas yang perlu diberikan terhadap pengelolaan air, berapa anggaran yang harus ditetapkan untuk air dan bagaimana pengeluaran-pengeluaran yang berkaitan dengan pengelolaan tersebut. Masyarakat diberdayakan untuk membuat keputusan yang baik bagi mereka sendiri dan bagi tempat/kota mereka tinggal. Contoh kedua adalah Recive, sebuah kota yang banyak penduduk miskinnya di Brasil. Recive telah memperkenalkan  manajemen pengelolaan air yang demokratis dan partisipatif. Untuk memastikan adanya perbaikan terhadap akses atas air, pada tahun 2001 ada partisipasi dan konsultasi selama 7 bulan lamanya, mereka melakukan partisipasi dan konsultasi tersebut dengan tetangga-tetangga yang ada di seluruh kota tersebut dan pertemuan tersebut kemudian memilih 400 wakil yang selanjutnya menyelenggarakan konferensi konsultatif yang membuat 160 keputusan mengenai masa depan air dan sanitasi di kota Recive. Hasil konsultatif tersebut memutuskan untuk menentang swastanisasi air dan kemudian membentuk suatu forum kelembagaan untuk memperbaiki dan memperluas sistem penyediaan air khususnya bagi penduduk miskin. Contoh ketiga terjadi di Ghana, yaitu melibatkan kemitraan masyarakat publik. Perusahaan Air Minum (PAM) yang ada di sana menyalurkan air baku ke kelompok-kelompok masyarakat di Severlembu (nama suatu tempat), masyarakat lokal pengelola air di daerah tersebut kemudian menyalurkan air tersebut ke penduduk di sekitarnya. Komite lokal pengelola air memutuskan/menetapkan sistem-sistem yang ada termasuk sistem penagihan air. Ini menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat atau keterlibatan masyarakat secara demokratis dapat memberikan kontribusi yang bermanfaat yaitu mengurangi biaya dan mengendalikan kebocoran air. Hal ini membuat air dapat dinikmati semua orang. Contoh keempat adalah Penang. Penang merupakan kota dengan harga jual air terendah di Malaysia dan juga terendah di dunia. Tahun 1999 dilakukan studi perbandingan mengenai tarif atau harga air 65 kota di 38 negara di Asia, Afrika, Amerika dan Eropa, yang hasilnya menetapkan bahwa tarif air di Penang merupakan tarif air yang terendah. Meskipun tarif airnya terendah, PAM di Penang tetap memperoleh keuntungan/laba, bahkan keuntungan yang didapatnya adalah yang tertinggi dari semua PAM yang ada di Malaysia. Dalam tahun-tahun terakhir PAM Penang mencatat atau membukukan keuntungan 40 hingga 50 juta ringgit. Di Penang air dapat diperoleh 24 jam sehari, dan dinikmati hampir 99 % dari seluruh penduduk Penang. Tingkat kehilangan airnya hanya 18 %. Selain itu PAM Penang memberikan pinjaman 1000 ringgit tanpa bunga kepada masyarakat miskin. Dewan Air Penang memiliki cadangan dana sebesar 223 juta ringgit, dan telah mencapai efisiensi cost sebesar 99 % di bidang penagihan. Mengapa hal-hal demikian dapat terjadi di Penang ?  Pertama karena ini merupakan kasus klasik di mana utilitas publik dapat menyediakan dan memberikan air bagi semua orang tetapi pada saat yang bersamaan tetap memperoleh keuntungan. Otoritas air di Penang atau Dewan Air Penang beroperasi secara otonom tanpa campur tangan politik dari negara bagian. Politisi bertindak atas saran profesional yang diberikan manajer. Kedua, adanya manajemen yang komitmen terhadap kesempurnaan pelayanan kepada publik dan administratif. Ketika Charles Santiago mengadakan penelitian terhadap air di Penang, ia mengunjungi pekerja untuk melihat bagaimana mereka bekerja : bagaimana ketika mereka melakukan reparasi, ketika mereka melakukan penagihan, ketika mereka salimg berbicara satu sama lain. Ia juga bertemu dan berbicara dengan  para manajer senior dan para regulator di Dewan Air Penang. Yang ia tangkap dengan jelas dari mereka adalah bahwa mereka mempunyai komitmen yang kuat untuk memberikan yang terbaik kepada publik. Ketiga bahwa otoritas air Penang telah mempunyai pandangan komersial tetapi dengan sikap sosial. Strategi ini dilakukan dengan meningkatkan akses atas air  dengan harga yang terjangkau dan pada saat yang bersamaan juga memastikan adanya efisiensi pendapatan yang tinggi. Poin yang keempat yang juga penting bagi kinerja Dewan Air atau Otoritas air di Penang, adalah adanya kompetisi atau persaingan di antara partai-partai politik, dan juga perhatian atau kewaspadaan masyarakat termasuk organisasi non pemerintah, telah memaksa Dewan Air Penang bersikap efisien, bersikap transparan/terbuka dan bertanggung jawab. Dewasa ini di Malaysia, otoritas air di Penang telah membebankan kepada konsumen biaya pemakaian air sebesar 22 sen per meter kubik yang merupakan tarif terendah di Malaysia dan di dunia. Jadi otoritas air di Penang tidak memperlakukan air sebagai suatu barang dagangan karena keuntungan yang diperoleh diinvestasikan kembali ke dalam perusahaan dan dengan demikian mempertahankan tingkat harga yang terjangkau guna memastikan adanya akses yang sama bagi semua orang. Menurut Charles Santiago pengalaman Penang ini menunjukkan utilitas air oleh negara pun ternyata juga dapat mendatangkan keuntungan dan efisiensi tanpa harus memberlakukan full cost recovery atau pemulihan biaya sepenuhnya.(sebagai catatan  full cost recovery ini sebagaimana yang disyaratkan Bank Dunia, IMF dan Bank Pembangunan Asia menghendaki semua biaya produksi air ditanggung oleh konsumen termasuk pula ditanggung  penduduk miskin).

Gambaran nyata di Indonesia mengenai keberhasilan menekan tingkat kehilangan air adalah PDAM Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor, dengan kiat yang dilakukan tidak hanya mendapatkan hasil penurunan tingkat kehilangan air tapi memperoleh perbaikan secara menyeluruh dalam operasi PDAM. Perubahan yang dapat dirasakan baik oleh pelanggan maupun perusahaan antara lain: pengaliran air ke tempat pelanggan menjadi lebih baik (97%), mengalir 24 jam, komplain pelanggan menurun, peningkatan air terjual dan pendapatan air naik, penurunan biaya operasional, dan terjadi efisiensi biaya produksi, biaya listrik dan bahan kimia. Yang paling menonjol adalah menurunnya ATR (Air Tak Berekening) pada awal program tahun 2003 sebesar 48,8 1 % dan pada tahun 2006 menjadi 33,7 1 %. Ini merupakan penurunan yang signifikan selama 4 tahun pelaksanaan program dengan biaya jauh di bawah perhitungan awal oleh konsultan. Pada awalnya diperkirakan biaya akan mencapai 21 miliar, dalam realisasi pelaksanaan biaya dapat dihemat menjadi hanya sekitar 3 miliar dan ini merupakan biaya rutin dalam program perbaikan rutin fasilitas yang ada setiap tahunnya. PDAM Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor telah pula menyusun program dan target penurunan tingkat kehilangan air untuk 5 tahun mendatang. Sudah pasti ini merupakan target yang disepakati bersama mulai dari top manajemen dan seluruh staf pelaksana, dengan komitmen yang tinggi dan dukungan dari pihak internal dan eksternal pengambil kebijakan.

Keberhasilan lainnya ditunjukkan oleh PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor sebagai pemegang peringkat pertama tahun 2007 untuk PDAM kategori besar. Sampai sekarang, secara rata-rata tingkat kehilangan air PDAM Tirta Pakuan mencapai 30 persen. Angka ini memang lebih rendah dari angka rata-rata kehilangan air yang dialami perusahaan air secara nasional. Di Kota Bogor kondisi ini lebih banyak dikarenakan tingkat kebocoran pipa daripada pencurian air. Sedangkan illegal connecting di Kota Bogor di bawah satu persen. Tekanan air yang tidak merata, cakupan layanan yang masih rendah, keterlambatan pengembangan, dan kesulitan mendapatkan sumber pendanaan, merupakan masalah lain yang turut mewarnai perjalanan PDAM Tirta Pakuan.
Untuk menyikapi kondisi ini, PDAM Tirta Pakuan telah menyiapkan beberapa langkah konkrit. Salah satu di antaranya adalah menekan tingkat kebocoran air. “Untuk itu, kami akan terus berupaya menambah tingkat produksi dan terus meminimalkan kebocoran pipa,” papar Kepala Bagian Litbang PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor. Penambahan tingkat produksi dilakukan antara lain dengan pemasangan pipa transmisi air baku.
Sementara untuk meminimalkan kebocoran pipa, PDAM Tirta Pakuan masih terus melibatkan partisipasi masyarakat. Kepala Bagian Hukum dan Hubungan Masyarakat PDAM Tirta Pakuan, Komala mengatakan pihaknya menyediakan reward bagi masyarakat yang pertama kali melaporkan kebocoran pipa PDAM. “Ini sebagai bentuk apresiasi saja dari PDAM. Kami menyediakan uang senilai Rp. 250 ribu bagi masyarakat yang melaporkan kebocoran di atas diameter 4 inchi,” beber Komala.
Selain itu, PDAM Tirta Pakuan telah pula melakukan penggantian meteran air pelanggan. “Sudah ada sekitar 16.788 meteran pelanggan yang telah diganti dari Januari sampai November 2007,” terang Henry. Dalam hal pelayanan,  PDAM Tirta Pakuan tak pernah berhenti berinovasi. Hal itu setidaknya tergambar melalui penyediaan call center 24 jam, penambahan loket pembayaran, penyedian ruang complain pelanggan, dan yang terbaru pembuatan website PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor.(Bogornews : 2007).

Dari uraian tersebut di atas terlihat pentingnya manajemen untuk mengatasi atau menurunkan tingkat kehilangan air agar tidak menimbulkan kerugian bagi PDAM maupun bagi konsumen. Selain itu dengan menurunkan tingkat kehilangan air,  PDAM tidak hanya menurunkan kerugiannya tapi juga dapat menaikkan labanya.

Bagaimana PDAM mengatasi tingkat kehilangan air ?  Ir. Sukmayeni.Sy., M.M. (Kepala Litbang Perpamsi) menyatakan agar PDAM dapat menurunkan tingkat kehilangan air, diperlukan hal-hal berikut : 1)  Perencanaan dibuat dengan konsep yang matang dalam jangka pendek dan jangka panjang dalam program penurunan kehilangan air yang disesuaikan dengan kondisi dan permasalahan yang ada pada PDAM.
2)  Komitmen mulai dari top manajemen (direksi) dan seluruh staf pelaksana baik di bidang teknik maupun administrasi bahwa program ini adalah program bersama, serta perlunya  dukungan  dari stake holder terhadap kesuksesan program penurunan kehilangan air. 3) Seluruh tahapan program dilaksanakan secara konsekuen dan tuntas sesuai tahapan sampai mendapatkan hasil yang diharapkan. 4) Memiliki personil yang mampu melaksanakan program yang terkait dalam bidang masing masing. 5) Mencari terobosan dalam mendapatkan dana dan strategi penyusunan anggaran yang dikaitkan dengan perbaikan rutin fasilitas yang ada, sehingga mengurangi pengeluaran khusus yang seolah-olah tertuju pada program khusus kehilangan air semata. 6) Dalam operasi rutin zoning diperlukan pengontrolan dan evaluasi yang terus menerus sehingga nilai kehilangan air yang telah berhasil diturunkan tidak menjadi naik kembali. Selain itu perlu dicamkan oleh pihak manajemen PDAM bahwa program penurunan tingkat kehilangan air sama dengan melaksanakan manajemen di bidang lainnya, di mana perencanaan, operasional / pelaksanaan, evaluasi, monitoring/control, harus dilaksanakan secara terus menerus dengan mempergunakan SOP secara konsekuen.

Secara teknis, untuk mengurangi tingkat kehilangan air PDAM perlu melakukan penggantian meter air, pencarian sambungan ilegal, dan perbaikan pembacaan meter. Melihat kondisi meter air yang terpasang dan usianya kebanyakan di atas 5 tahun, akurasi peneraan tahun 2002 menggambarkan 48% meter air pelanggan tidak akurat, yang merugikan PDAM (55,17%) lebih tinggi dibanding yang merugikan pelanggan (27,59%).
Berdasarkan hal ini dilakukan program penggantian meter air. Prioritas penggantian meter air pelanggan yaitu meter mati, rusak, buram dan berdasarkan hasil kalibrasi yang memiliki penyimpangan yang tinggi dan yang rendah sekalipun. Setelah dilakukan penggantian meter air, sekitar 60,7% konsumsi meningkat dan 39,3% konsumsi menurun dan secara rata-rata total peningkatan air terjual dengan penggantian meter air sekitar 7,25%. Di dalam program penggantian meter ini juga termasuk pemasangan meter induk pada instalasi, yang semula hanya dengan perhitungan kapasitas pompa. Meter induk yang rusak diganti dengan jenis meter elektromagnetik, ultrasonik dan turbin water meter, dan secara berkala dilakukan peneraan meter induk. Dengan penggantian meter induk ini perhitungan air yang didistribusikan dengan hanya memakai pompa dan alat Thomson jauh lebih tinggi dibanding pencatatan setelah penggantian meter. Sehingga dengan penggantian meter induk ini dapat menekan tingkat kehilangan air.(Sukmayeni : 2007).

Dari pemantauan diketahui, sambungan ilegal antara lain disebabkan pemutusan sambungan rumah, sambungan ilegal yang dilakukan karyawan PDAM, dan sambungan ilegal betul betul karena disambung dengan tidak melalui proses dari PDAM.
Dari hasil pencarian sambungan ilegal ini diperoleh fakta bahwa ada perintah diputus ternyata tidak diputus dan ada yang disambung sendiri oleh pemilik rumah. Sambungan ilegal yang dilakukan oknum. karyawan penanganannya dengan tindakan terhadap karyawan yang bersangkutan dipecat, diberi peringatan dan turun jabatan. Ini dilakukan sebagai punishment, dan sebagai contoh bagi karyawan lain sehingga tidak berbuat yang sama. Sedangkan untuk perbaikan pembacaan meter, kegiatan yang dilakukan adalah diawali dengan memberi motivasi kepada pembaca meter bahwa mereka adalah ujung tombak perusahaan yang menentukan hasil yang paling baik bagi perusahaan, sehingga mereka akan termotivasi untuk bekerja secara baik dan benar. Melakukan rotasi/mutasi pembaca meter, sehingga, kesempatan untuk membuat kesepakatan yang tidak baik dengan pelanggan menjadi kecil, karena pembaca meter tidak terlalu lama dalam satu daerah yang sama. Melakukan sosialisasi kepada pelanggan yang rumahnya selalu terkunci/kosong untuk memberikan data pemakaian air. Penggunaan hand terminal untuk pembacaan meter, dan juga dilakukan outsourcing pembacaan meter.(Sukmayeni : 2007).

Bagaimana pengaruh manajemen penurunan tingkat kehilangan air terhadap penilaian kinerja PDAM ?  Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, keberhasilan penurunan tingkat kehilangan air akan menurunkan pula tingkat kerugian PDAM dan dapat pula menaikkan laba karena antara lain : air yang terjual menjadi lebih banyak serta terjadi penghematan sehingga paling tidak kinerja keuangan dan cakupan pelayanan menjadi lebih baik.

Secara umum penilaian kinerja PDAM saat ini masih mengacu kepada Keputusan Menteri Dalam Negeri (Kepmendagri) Nomor 47 Tahun 1999 tentang pedoman penilaian kinerja PDAM yang meliputi 3 (tiga) aspek penilaian : 1) Aspek keuangan, 2)Aspek operasional, dan 3) Aspek administrasi.

Aspek keuangan terdiri dari 10 indikator  penilaian, yaitu :  rasio laba terhadap aktiva produktif, rasio laba terhadap penjualan, rasio aktiva lancar terhadap utang lancar,  rasio utang jangka panjang terhadap ekuitas, rasio total aktiva terhadap total utang, rasio biaya operasi terhadap pendapatan operasi, rasio laba operasi sebelum biaya penyusutan terhadap angsuran pokok dan bunga jatuh tempo, rasio aktiva produktif terhadap penjualan air, jangka waktu penagihan piutang, dan efektivitas penagihan.

Aspek operasional terdiri dari 10 indikator penilaian, yaitu : cakupan pelayanan, kualitas air bersih, kontinuitas air, produktivitas pemanfaatan instalasi produksi, tingkat kehilangan air, peneraan meter air, kecepatan penyambungan baru, kemampuan penanganan pengaduan rata-rata per bulan, kemudahan pelayanan, dan rasio karyawan  per 1000 pelanggan.

Keberhasilan menurunkan tingkat kehilangan air akan meningkatkan laba dan meningkatkan pula nilai kinerja keuangan dan nilai kinerja perasional PDAM. PDAM akan mendapat nilai tambahan apabila dalam suatu tahun buku  dibandingkan tahun buku sebelumnya ada perbaikan terhadap minimal salah satu dari indikator berikut ini : peningkatan rasio laba terhadap aktiva produktif,  peningkatan rasio laba terhadap penjualan, peningkatan cakupan pelayanan, dan penurunan tingkat kehilangan air. Contoh perhitungan nilai kinerja dan nilai bonus,  tampak  pada tabel berikut :

ASPEK

Penilaian

Indikator

PENILAIAN

Kepmendagri No.47 Perhitungan 2007 Nilai 2006 Nilai
KEUANGAN
Rasio Laba terhadap Penjualan : Th. 2007
Laba Sebelum Pajak X 100% > 20% =  5

  3.800

5,20%

2

Penjualan > 14% – 20% =  4

 73.000

> 6% – 14% =  3 Th. 2006
> 3% – 6% =  2

  1.300

2,09%

1

< 0% – 3% =  1

 62.000

Bonus nilai :
Peningkatan Rasio Laba Terhadap > 12% =  5 5,20 – 2.09

 3,11%

2

Penjualan > 9% – 12% =  4
Rasio tahun ini – rasio tahun lalu > 6% – 9% =  3
> 3% – 6% =  2
> 0% – 3% =  1

Jumlah nilai tahun 2007 = 2+2 = 4

OPERASIONAL
Tingkat Kehilangan Air < 20% =  4 Th 2007
Jlh Air didistribusikan – Terjualx100% >20% – 30% =  3

       8.379

26,99%

3

Jumlah Air Didistribusikan >30% – 40% =  2          31.036
> 40% =  1 Th 2006

       10.009

33,19%

2

         30.151
Bonus  nilai :
Tingkat kehilangan air  th 2007 –  th 2006
Tahun ini   > 25% – 27% Nilai Bonus 26,99 – 33,19

-6,20

1

Tahun lalu  > 30% – 40% sebesar 1

Jumlah nilai tahun 2007 = 3+1 = 4

Sebagai penutup, dapat disimpulkan bahwa penurunan tingkat kehilangan air akan berpengaruh secara positif terhadap penilaian kinerja PDAM. Oleh karena itu penurunan tingkat kehilangan air harus diwujudkan. Keberhasilan manajemen PDAM menurunkan tingkat kehilangan air hanya dapat terwujud apabila didukung komitmen di dalam PDAM sendiri mulai dari top manajemen sampai staf pelaksana untuk mencapai target yang disepakati dan melaksanakan dengan tuntas setiap tahapan yang sudah diprogramkan, serta yang tidak kalah pentingnya dukungan dari masyarakat sebagai stake holder.

* * * * *